Saya tau kamu lagi senang. Benar kan kamu lagi senang? Pasti
dong, kamu kan sudah mempunyai pengganti saya yang dulu sempat mengisi setiap
jam harimu. Namun belum sempat membuatmu bahagia. Saya bingung harus menyikapi
situasi ini. Tersenyum tapi hati teriris. Menangis tapi itu tak berarti
apa-apa. Lagipula, airmata ini sudah mengering di pelupuk jurang kesedihan.
Boleh gak saya ketemu dia? Dia yang sekarang memegang
tanganmu. Cuma mau bicara tentang kamu. Tentang sifat saya yang kamu tidak
suka. Ya saya harap dia bisa lebih baik dari saya. Kamu juga berharap begitu
kan? Lebih baik dari saya yang kamu tinggalin didepan pintu masuk kebahagian
dan memilih masuk dengan dia. Apa bedanya saya dengan dia? Sama-sama
mencintaimu dan saya yakin saya punya cinta yang lebih daripada dia. Apa karena
dia lebih menarik untukmu? Dia ganteng kan? Kalau begini berarti Tuhan gak adil
dong? Tapi kan Tuhan Maha Adil.
Dulu kamu bilang saya yang terakhir. Tapi sepertinya saya
yang terakhir kamu mainin. Sudah saatnya kamu dewasa dan memiliki keseriusan
dalam pertalian. Tapi kamu sudah terikat dengannya sekarang. Bukan dengan saya
yang sedang meradang menjadi sampah di hidupmu yang sekarang.
Buat apa kita berstatus kalau pada akhirnya kita hanya jadi
teman yang saling membenci dan saling menyimpan rasa sakit? Saya merapikan
kenangan kita. Kenangan yang saya banggakan tapi pasti bakal kamu lupakan.
Karena kamu bakal memiliki kenangan dengannya. Meskipun ini sakit, tapi saya
mengaku ini salah saya. Salah saya pilih kamu yang banyak pengagumnya. Dan saya
harusnya tau diri kalau saya hanya pantas jadi pengagum parasmu dan berharap
lebih memiliki hati kamu.
Silahkan pergi deh. Saya terima ini semua : )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar